Chauvinisme dan Dampak Negatifnya bagi Generasi Muda
Pernahkah kalian mendengar kata “chauvinisme”?. Mungkin istilah ini sedikit asing di telinga anda, oleh karena itu mari simak informasi seputar chauvinisme dan dampak negatifnya.
Sumber: Amazine.co
Chauvinisme merupakan suatu paham yang menjunjung bangsa sendiri secara berlebihan dan merendahkan bangsa lain. Dengan kata lain, chauvinisme merupakan rasa cinta tanah air secara berlebihan dan memiliki kecenderungan untuk merendahkan bangsa atau negara lain. Cinta tanah air dan merendahkan bangsa lain merupakan 2 hal yang kontradiktif, di satu sisi mencintai tanah air merupakan kewajiban bagi warga negara, di sisi lainnya merendahkan bangsa lain merupakan perbuatan tercela dan sama sekali tidak mencerminkan salah satu tujuan NKRI seperti yang tercantum dalam UUD 1945, yaitu “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.
Istilah chauvinisme berasal dari bahasa Perancis, di mana kata "chauvin" pada chauvinisme diambil dari tokoh fiktif yaitu Nicolas Chauvin. Chauvin merupakan seorang prajurit yang setia kepada pemerintahan Napoleon Bonaparte, selama mengabdi sebagai prajurit, ia telah terluka sebanyak 17 kali hingga cacat. Ketika kekuasaan Napoleon berakhir dan terlupakan pun, Chauvin masih mengagung-agungkan pemerintahan Napoleon pada masa kejayaannya. Sifat tersebut ternyata juga diturunkan kepada prajurit veteran lain, oleh karena itu orang-orang Perancis mengejek veteran tersebut menggunakan kata “Chauvin” untuk mendefinisikan orang yang memuja terlalu berlebihan pada seorang pemimpin atau negara. Istilah Chauvin juga ditujukan kepada tokoh fanatik yang sering mengutarakan pernyataan tidak logis terhadap bangsa atau keyakinannya sendiri.
Sumber: britannica.com
Tahukah kalian siapa tokoh pada gambar di atas? Benar, ia adalah Adolf Hitler, pemimpin NAZI Jerman yang terkenal dengan sepak terjangnya di Benua Eropa pada Perang Dunia II. Lalu apa hubungannya dengan pembahasan kali ini?
Dalam bukunya “Mein Kampf” yang ditulis oleh dirinya sendiri pada tahun 1924 ketika berada di penjara akibat tuduhan makar kepadanya, memuat pemikiran bahwa ras Arya, ras nenek moyang Jerman merupakan ras yang paling unggul dari ras-ras lainnya. Pada tahun 1933, NAZI mengambil alih pemerintahan Jerman yang mana salah satu kebijakannya adalah memberikan kopian buku “Mein Kampf” kepada setiap pasangan yang menikah. Bisa kalian bayangkan sudah berapa banyak orang terdoktrin dengan buku yang memuat pernyataan bahwa ras Arya lebih unggul dari ras lainnya tersebut. Akibatnya, Hitler berambisi untuk menguasai Eropa dan menindas kaum Yahudi, hal tersebut menjadi salah satu faktor timbulnya Perang Dunia II, apalagi pada saat itu Jerman merasa dirugikan akibat adanya Perjanjian Versailles.
Apa kalian masih asing mendengar kata chauvinisme setelah berbagai penjelasan di atas? Bagaimana jika saya berikan istilah “overproud”, mungkin kalian pernah mendengar istilah ini ketika menggunakan sosial media, sebuah istilah yang menggambarkan sikap netizen yang terlalu berlebihan ketika berkomentar pada konten yang ada sangkut pautnya dengan kearifan lokal negaranya sendiri. Dampak negatif overproud yang masih berkaitan dengan chauvinisme adalah sebagai berikut:
1. Image masyarakat suatu negara menjadi buruk
Jika kalian melihat komentar yang terlalu berlebihan (lebay) merasa risih? Tentu saja, begitu juga dengan orang lain. Bayangkan jika komentar yang mengekspresikan suatu kebanggaan terhadap negaranya secara berlebihan tersebut jumlahnya sangat banyak, bisa-bisa orang luar negeri menjustifikasi masyarakat suatu negara sebagai orang-orang yang berlebihan dalam menanggapi suatu hal.
2. Merasa superior
Perumpamaannya adalah seperti ini “Saya berasal dari negara A, negara saya punya produk buatan lokal yang mendunia, negara kamu punya apa?. Negaramu bahkan gak bisa membuat produk secara lokal”.
3. Sulit menerima kritik & saran
Saking bangganya, seseorang yang memiliki sifat overproud akan berusaha mengabaikan kritik dan saran yang dilontarkan terhadap sesuatu yang dibanggakannya. Seolah-olah hal tersebut sudah pasti tidak valid meskipun diberikan fakta yang empiris.
Oleh karena itu, sebagai generasi muda, kalian harus menghindari sifat-sifat chauvinisme terutama ketika menggunakan sosial media di mana penggunanya merupakan orang dari seluruh dunia yang berbeda latar belakang suku, ras, agama, pendidikan, dan sebagainya.


Artikelnya sangat menarik dan bermanfaat..
ReplyDelete